Minggu, April 23, 2006

rest in peace

bener, kamu bener sekali... hummm

kadang mengutak atik kata, bersenggama dengannya, mendobrak susunan pola kalimat, mengindari semua puitis, melanggar EYD, membuat gaya prosa yang acak nga' akan pernah ada habis habisnya, mencoba untuk peka terhadap permasalahan sosial yang lagi hangat juga nga pernah ada selesai nya... ah biarin sajalah...

jember's family kalo cuman cerita rumah jember yang kemasukan pencuri *dan bersyukur karena tidak terjadi apa apa dengan keluargaku*, tentang keluarga yang berkunjung ke bandung *dan belanja ini itu di pasar baru* lalu cerita tentang pekik riuh acara wisuda seorang kaka' yang tidak pernah mengunjungin acara wisuda semua ade-adenya itu tidak begitu menarik buatku, lalu apalagi yang menarik ya?

juga sempat kemaren saat harus menunggu acara wisuda itu selesai, lalu mencoba bercanda dengan seorang ade kecil yang sangat lucu, yang menunggu ayahnya di wisuda, yang menangis di ruang upinet karena di tinggal ibunya mengambil se-ember air di toilet untuk membersihkan sisa muntah anaknya di lantai, dan aku gagal total membuatnya terdiam *malah semakin kenceng nangisnya pas ngeliat senyumku yang nga' jelek jelek amat ini* :( dan aku berpikir, wajah polos kecil lucu itu kalo di potret pasti lucu masuk 'deep blue something' tapi tetep saja aku kehabisan ide, bahkan meski saat aku mau mengendongnya celana jeansku jadi kotor karena tendangan maut sepatu dan sisa muntah si ade kecil, dan tangisnya-pun jadi semakin menjadi, untung tidak ada yang melihat rautku yang kebinggungan...

begitu juga cerita tentang begitu bersemangatnya seorang klien di proxy yang ingin membuat catatan sejarah kelautan di republik ini, yang memintaku untuk mendesain web yang cuma bisa aku buat seadanya, karena keterbatasanku dalam hal skrip-menskrip *dasar skrip kidies*, lalu menganti domainnya menjadi dotnet ato' dotkom, lalu aku harus mencari webhosting yang tepat untuk memindah semua isi postingan itu, dan aku yakin, setelah pelayarannya ke indonesia-magadaskar itu selesai, dia pasti akan membuat buku catatan kedua, cerdas dan brilian ...hmmm, bisa aku lihat semangat disitu, energi yang sangat besar untuk usia yang sudah senja, seandainya saja ada energi seperti itu di diriku

kalo cuman cerita tentang hape siemens ku yang hilang di curi kemaren, dan semua kebingunganku karena semua data nomer teman di dalamnya adalah sesuatu yang amat-sangat-penting-sekali buatku adalah hal yang tidak menarik? lalu cerita apalagi yang menarik?

kalo aku harus ke kantor polisi untuk mendapatkan selembar kertas HVS *dan mengantinya dgn selembar 10ribuan* karena prosedur wajib grapari simpati untuk mendapatkan nomer card yang hilang itu adalah sesuatu yang memusingkan dan tidak harus muncul di 'deep blue something' ...lalu apalagi yang menarik? *huahaha -nga' menarik tapi kok di posting, ketawanya sambil berduka-*

kram, kram, kramotak! ....migrain -ku mulai kumat malem ini...


*kalo bercerita tentang kehidupan sehari hari saja sudah tidak menarik lagi, apa mungkin harus menunggu untuk gelisah dulu, agar kreatifitas ini bisa lahir?
...hah?

Selasa, April 11, 2006

retouch

retouch

" hummm, kalo' saja bisa...
kalo' saja hidup ini bisa di photoshop..."

Sabtu, April 08, 2006

istana pasir

angin laut terlalu kencang, tidak begitu bagus memang, ombak juga terlalu riak, tidak begitu tenang, sangat tidak bersahabat, tapi aku masih ingin menyelesaikan istana pasir megah ku ini, dengan kedua tanganku, membangunnya tanpa berpikir apa apa, tentang kesedihan, tentang keceriaan, tentang euporia, dan tentang apa apa saja yang bersenggama di pikiranku, tidak juga dengan semua canda tawa di ujung ujung ombak itu...

pondasi tanpa kerikil yang aku bangun ini tentu saja terlalu ringkih, pasti satu deburan akan meluluh lantakannya dengan begitu mudah, tapi tetap saja kubangun istana pasir yang megah ini, cuma buatku

untuk sejenak melupakan pikiran tentang keceriaan, tentang kesedihan, tentang rutinitas, dan absurditas pertanyaan yang muncul di benakku, di pikiranku, juga pertanyaannya yang tidak pernah bisa aku jawab pasti itu, mungkin aku cuma sedang ambigu, sejenak aku ingin kosong...

humm, dinding dindingnya sebentar lagi selesai, tinggal corong atap megahnya kubangun, dan menancapkan tiang bendera dari batang kayu yang terdampar itu, sebentar lagi pasti selesai, sebelum ombak pasang benar benar melibasnya...

angin semakin kencang, sebentar lagi matahari pasti akan tengelam, langit yang biru juga mulai tidak cerah, harus bergegas aku untuk membangun istana pasir megah ku ini, kalo bukan aku siapa lagi? tidak, tidak mungkin selain aku...

kulihat sisi dinding sebelah kiri luluh, pasti karena pasir pasirnya terlalu basah, aku harus membangunnya lagi sebelum istana pasir ini benar benar lantak untuk yang kedua kali, bagaimana aku bisa menancapkan tiang bendera kayu ini kalo atapnya saja belum jadi...

selalu aku berharap untuk bisa membangun atap istana pasir yang runcing, yang tertinggi, yang menyentuh kaki kaki langit, yang bisa membayangi seluruh pasir pantai ini

dan angin laut terlalu kencang, tidak begitu bagus, ombak juga terlalu riak, tidak begitu tenang, sangat tidak bersahabat...

ah, akhirnya selesai juga istana pasir megahku ini, tegak dan menantang, sekali aku memutarinya, melihat dari sudut sudut yang aku inginkan, tidak terlalu sempurna memang, bahkan tingginyapun tidak lebih dari ujung lututku...

pangandaransebentar lagi air laut pasang, sebelum benar benar meratakan istana pasirku ini dengan ujung ujung ombaknya, sebentar lagi matahari juga pasti menghilang, angin laut yang gelisah semakin tidak tenang, mungkin angin laut berpikir tiupannya tidak juga bisa mengeser istana pasir ku ini...

sebentar lagi langit gelap, bukan.. bukan karena ujung istana pasirku terlalu tinggi, tidak terlalu tinggi untuk memayungi seluruh pasir pantai ini, lalu aku beranjak untuk berkemas, meninggalkan pantai yang mulai gelap ini, anginnya juga semakin kencang

istana pasir ini terlihat kokoh, tapi sebentar lagi ujung ombak pasti akan meratakannya, mungkin itu bisa jadi sedikit kesedihan kecil buatku

istana pasir yang lucu, pikirku...
dan sebelum aku berbalik untuk membelakanginya, aku menendangnya keras di sisa tenagaku, pasir pasir kecil yang berhamburan di udara semoga bisa menjadi bintang, jangan harap ujung ombak bisa menyentuhnya, biar aku saja...


april mop, pangandaran