lalu gedung kedua di sebelah kanan kami belum juga utuh, entah gedung itu akan seperti apa bentuknya, seperti mainan lego anak kecil yang belum juga rampung dipasang, dan gedung megah ketiga tepat di belakang kami, tua tampak rapuh, cuma masalah waktu sampe gedung megah yang menghadap punggung kami ini benar2 dipugar, mungkin tidak banyak waktu buat kami bercengkrama dengan posisi seperti ini... mungkin tidak terlalu banyak waktu buat kami berdua untuk menyaksikan gedung ini luluh lantak
banyak sekali waktu yang kami habiskan disini, mengangkat gelas dan menertawakan semua kesedihan, mencibir sinis pada kenangan tentang kebahagiaan, mencoba untuk tidak mengingat kembali semua penghianatan... ya, semuanya sudah kami maafkan, meskipun tidak terlalu mudah buat hati kami yang tidak bisa seluas lubang hitam, hati bekas yang kami miliki saat ini benar benar bekerja dengan tidak sempurna, jujur kami hanya ingin hati ini tidak berbulu, terlalu banyak sekali omong kosong yang kami bicarakan disini, ratusan pertanyaan yang saling kami lempar, ratusan jawaban yang kami dapatkan, dan tetap saja membawa kami kembali ke tempat ini, tempat dimana kami menghabiskan banyak sekali energi untuk mendapatkan jawaban-yang-sempurna, seharusnya...
kadang ada saat kami terbahak dengan mata yang mulai sedikit sembab berkaca, jawaban-yang-sempurna yang dibungkus rapi saat kita meninggalkan tempat ini saat beranjak, tetap saja akhirnya membawa kita kembali ke tempat yang sama, seperti labirin saja... terlalu letih sampai kita mulai sedikit berpikir pesimis, bahwa masing masing dari kita tidak benar benar bisa menyakinkan satu sama lain, ternyata kita tidak benar2 ahli dalam bidang ini, bahwa memang tidak ada yang benar benar bisa kita pecahkan, badai tanya-jawab dari kita berdua tidak akan berhasil, ya... kita mulai sedikit-banyak berpikir, bahwa pembicaraan kita ini tidak akan berhasil, yakin ini bukan tentang kesia-siaan, kita menggembirakan diri bahwa semua ini adalah salah satu bentuk dari proses hidup yang sedang berlangsung dengan sempurna, belajar untuk paham bahwa tidak semua yang kami cari dapat kami temukan, jasad-muda dan ribuan kata otentik yang kami miliki tidaklah cukup, tidak sebanyak detik detik yang terus berdetak, sepertinya kita berdua harus benar benar menyiapkan diri untuk mengibarkan bendera putih dan mulai belajar menerima kenyataan bahwa kita disini memang sudah seharusnya mulai belajar-banyak-tentang-diam dan tidak membicarakan apa apa selain mengenang kemegahan dan keheningan tempat ini, bahwa disinilah kita berdua sudah mencoba hidup untuk belajar menerima kenyataan dengan berlapang-dada mengibarkan bendera putih...
* yup, kami berdua memang terlalu payah, terlalu lelah, penat ('| pesimis, badai tanya-jawab ini tidak akan berhasil... mungkin kami memang menghilang, tapi setidaknya ingatan tentang pembicaraan-malam-panjang yang kami lakukan tidak akan pernah memudar... akan kami simpan di dalam hati yang terdalam saja
hanya untuk malam ini saja, ya! malam ini setidaknya...
sekarang waktu yg tepat untuk beristirahat, merebah, dan tetap bersiasat!...
besok pagi, buka jendela dan akan aku turunkan lagi bendera putih itu!
*sudahlah.. sudahlah.. apakah tidak pernah ada kata insyaf buatmu?..*
tidak! besok akan aku turunkan lagi bendera putih itu!!
...biar aku robek robek saja menjadi serpihan perca!!
*sudahlah... sudahlah...*
sekarang waktu yg tepat untuk beristirahat, merebah, dan tetap bersiasat!...
besok pagi, buka jendela dan akan aku turunkan lagi bendera putih itu!
*sudahlah.. sudahlah.. apakah tidak pernah ada kata insyaf buatmu?..*
tidak! besok akan aku turunkan lagi bendera putih itu!!
...biar aku robek robek saja menjadi serpihan perca!!
*sudahlah... sudahlah...*
ya, kita semua memang telah berkelahi dengan hari-hari mengambang, dengan seribu juta kejenuhan, hari hari yang amat-sangat-sangat membosankan dan senyum lampu-lampu jalanan selalu menggoda tanpa kesepakatan... lalu mengisi debar jantung kita dengan ruang penuh warna, yang ceria dan membuat sedikit kita lupa
pasar malam di alam bawah sadarku terlalu berisik, susah sekali sepertinya untuk hening sejenak, komidi putarnya juga semakin kencang berputar, warna warni kuda kayu-nya jadi susah untuk dilihat, membias, blur, sesekali menjadi warna putih... semakin susah untuk benar2 fokus pada satu warna, tapi berisik tiupan terompet diluar sana memang nada yang sempurna untuk pengingat hitungan mundur buat hidupku, penganti kuk-kuk jam dingin yg keluar dari kotak kayu-nya setiap malam sebelum pagi menjelang, sebelum aku benar benar bisa tidur dengan nyenyak tanpa pengaruh kafein tentunya... cerita kehidupan ini masih tentang harga dan berharap banyak semoga besok bukan tentang kesedihan kesedihan...