Senin, Juli 31, 2006

drama

tas merah sisa perjuangan waktu jaman masih-jadi-ilmuwan itu masih ada di dekapanku saat hujan turun rintik rintik, udara sore ini di bandung sedikit mendung, tas merah yang dulunya berisi jas lab, buku tebal, dan catatan pinjaman kini di dalamnya berisi tabung printer laser yang baru saja aku isi di BEC, aku harus usahakan jangan sampe' basah

hujan sepertinya tidak bisa di tembus, semakin deras, mungkin untuk sementara berteduh di depan gedung megah yang penuh barang elektronik ini jadi solusi yg baek, menghabiskan sedikit waktu untuk berteduh menunggu hujan reda dengan digital player di saku jaket sepertinya bisa sedkit menghilangkan kebosanan sore ini, aku bukanlah yang satu satunya berteduh di depan gedung megah ini, karena di kiri-kanan ku tampak pengunjung BEC yang sepertinya tidak sabar menunggu hujan reda, terlihat jelas dari raut dimukanya

tampak berlarian para penjaja ojek payung yang menawarkan jasa sewa payung kepada para pengunjung BEC yang ingin menembus hujan sore ini, mayoritas usianya masih anak anak sekolah, dengan baju yang basah dan terlihat mereka mengigil kedinginan, ya bandung sore ini memang menjadi lebih dingin di tambah hujan di akhir bulan juli ini

terlihat juga ada beberapa orang yang menyepakati harga sewa payung lalu bergegas pergi dgn di iringi langkah kecil si pemilik payung, mengekor di belakang si penyewa, kehujanan, mengigil kedinginan...

kalo dulu aku kecil saat di kampung, bunda selalu marah saat tau ada anak-anak nya yang bermain air hujan sambil bersorak sorak bisa berbasah basahan dengan teman sepermainannya, masih ingat dulu, untuk bisa bermain air hujan aku dan bro Q harus mengendap endap keluar rumah agar bunda tidak memergoki kami bermain air hujan, "...nanti bisa sakit kamu!" kata bunda, yang repot pasti bunda juga kalo anak anaknya demam ato' pilek karena air hujan... ingatan yang masih sangat manis

hujan belum juga reda... mengamati para ojek payung itu berlarian di belakang penyewa payungnya, sedikit membuatku berpikir, kenapa si penyewa tidak mengajak anak si pemilik payung itu berpayung dan berjalan bersama menembus hujan? kenapa membiarkan mereka mengikuti dari belakang dan basah kuyup kehujanan? kenapa para penyewa payung itu tidak seperti bunda dan berkata "jangan hujan hujanan, nanti kamu sakit..." ah, cuma pikiran yg mengada ada mungkin, tapi sorot mata berbinar anak anak si pemilik payung saat ada seseorang yang menyewa jasa payungnya membuatku berpikir lain, mereka ternyata cukup bahagia, cukup bahagia karena tidak terlalu banyak ambil pusing di drama kehidupannya di tengah hujan sore ini, mungkin...

mungkin setelah hujan reda, ada beberapa lembar uang ribuan yang bisa di bawa pulang oleh anak anak ojek payung itu, sambil bersorak, " bunda aku dapat duit dari air hujan..."

belum usai juga lamunanku tentang ojek payung saat tiba tiba seorang satpam yang membawa detektor logam, menegur semua pengunjung -termasuk aku untuk- tidak duduk di depan gedung BEC ini, amat-sangat mengesalkan, memang apa ruginya kalo' para pengunjung duduk di pelantaran sambil menunggu hujan reda? apa bangunan gedung ini akan roboh? apa omset penjualan barang elektronik akan turun? ato' mungkin kami yang berteduh bisa merusak pemandangan alam? bah!
ah, nasibku sore ini ternyata tidak sama dengan penjual sayur di depan proxy setiap pagi, dan satpam pembawa detektor logam tidak bisa disamakan dengan para proxy crew yang rata rata memang baek hati

lalu, hujan mulai sedikit reda.. aku menembusnya untuk membeli satu pak rokok yang aku pikir bisa mendramatisir gerimis hujan sore ini, dan bergegas menuju pelantaran parkir untuk menyalakan mesin d'vLa, bergegas aku balik pulang dengan kecepatan rendah berharap rintik hujan sore ini bisa sedikit menyapu raut wajahku yang terlalu banyak rekaman drama di setiap guratanya... digital player yang menyumpal gendang telinga masih mengalun, sore ini bandung terlihat bersih, kadang aku berpikir kota ini terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan

nah loh, drama lagi khan?
ah, DRAMA! DRAMA! DRAMA!

Senin, Juli 24, 2006

singaraja

saat aku mencari tau tentang gempa kemaren di singaraja ternyata meninggalkan cerita gempa di desa seririt, singaraja tahun 1979 - - - -

mbah djlantik -macak sangarberita berita yang aku search di google ini juga yang membawa aku menuju URL "Djlantik" *koyok jenenge manuk wae yo? :p* nama ini punya sejarah yang panjang rupanya, nama wayah -kakek- di bali juga Djlantik, nama ini merupakan nama belakang seorang patih dari kerajaan buleleng, sebuah kerajaan yang berasal dari desa tempat dulu aku kecil mak-bejundul dengan-sangat-lutju-sekali :p

dan dari URL itu juga aku baru tau hubungan antara singaraja dan singapura...
ternyata Sir Stamford Raffles seorang sejarawan dan budayawan Inggris yang pernah menjabat Gubernur Jendral di Jawa (1811) yang terkenal sebagai pendiri kota dan negara singapura pernah ada keinginan untuk membangun kota singapura di buleleng

mbah Raffles adalah seorang bule inggris yang menyukai keindahan alam dan budaya pulau bali setelah sempat mengunjungi pulau mungil ini di tahun 1811. lalu mbah raffles datang lagi ke bulelelng untuk mengajak kerja sama mbah gusti gede karang membangun kota pelabuhan dengan nama singapura

rupanya mbah raffles tergiur melihat ramainya pelabuhan buleleng dengan lokasi yang dilihatnya sangat strategis di antara kepulauan nusantara. memang buleleng jaman itu sedang jayanya dari hasil monopoli candu dan penjualan budak. *aarrghhtt! memalukan!* raja buleleng, mbah i gusti gde karang rupanya tertarik namun tidak bisa dilaksanakan, karena mbah raffles sendiri sangat menentang penjualan budak. diantara cinta dan dendam *halah!* pada tahun 1814, mbah raffles membawa kapal perang inggris ke buleleng, namun tidak terjadi pertempuran.

pada malam hari, rabu, 24 Nopember 1815 terjadi musibah bencana alam di buleleng. Beberapa desa tertimbun lumpur dengan penghuninya, ada yang hanyut kearah laut bersama penduduknya.

karena kecewa tidak bisa mengembangkan kota pelabuhan di pulau bali, si mbah raffles mengembangkan kota (pelabuhan) singapura tahun 1819. sedangkan di buleleng berkembang kota yang bernama singaraja bukan singapura

setelah itu mbah i gusti gde karang membuka lahan dan membangun istana baru, terletak di sebelah Barat jalan, berseberangan jalan dengan puri buleleng yang dibangun mbah ki gusti pandji sakti, kakek buyutnya si mbah i gusti ketut jlantik
...dan istana yang baru di bangun ini di beri nama singaraja cikal bakal dari kota tempat panglima perang dwipayana dilahirkan ')

Rabu, Juli 19, 2006

jejak yang serius*

ombak yang datang dan yang pergi di bibir bibir pantai itu memang selalu saja menghapus jejak kaki yang terekam di kecilnya butir putih pasir pasir pantai

dan ada lagi jejak yang berbeda, lalu terhapus lagi, dan lagi, dan lagi, mungkin ini yang namanya ber-proses, butuh waktu yang panjang ternyata, jejak yang dalam atau tidak itu sama saja, karena riak riak ombak yang menyentuh dan menghapusnya akan tetap melakukan hal yang sama...

jejak di putih butir butir pantai ini mungkin akan cepat menghilang sebelum aku sempat menoleh ke belakang, jejak yang terhapus di pasang surut nya air laut

berharap jejak kaki ini akan terus memanjang sampai bibir pantai ter-ujung, karena mungkin saja di sana riak ombaknya lebih tenang, yang tidak akan cepat menghapusnya dengan sekali deburan

" hai de', serius-lah sedikit dengan hidupmu!" kata bro Q kemaren sore
" ufffhhh... kamu ajah yang terlalu serius, sampe' kebanyakan ngelamun..."


- - - -
seperti ada yang agak berbeda hari ini, mencoba mengingat ingat mungkin ada sesuatu yang hilang
humm, sepertinya tidak, tidak ada yang hilang, cuma mungkin ada yang kurang saja...


* :-? judul yang aneh...

Sabtu, Juli 01, 2006

zoom

Kandang Monyet tempat aku nyari se-tandan pisangGoogle's No More!
"Aku tidak butuh server google untuk mengawasi tingkah laku-mu dan mencatat semua kejahatanmu..." kata-Nya di suatu malam yang dingin itu...

dan aku selalu berharap
semoga dengung-an itu selalu menggangguku, dan percaya semoga selalu ada yang mengawasiku, dalam bertingkah, dalam berpikir...

kamu tau kenapa?
agar aku selalu ingat, dan berusaha jadi anak yang baek, yang selalu bisa bersikap manis, selalu bersikap yang menyenangkan buat orang di sekitarku...
"amieen..." *terdengar kompak suara bersahutan dari kejauhan 'p

tapi...
arrgght, bedebah! kenapa juga desa-megapolitan-jember-ku-yang-indah-lestari-damai- tentram-sentosa-tata-raharja-bersahaja-dan-penuh-pesona tidak ke-detect dengan jelas dari kotak sabun ini? hah? ada yg bisa mbantu? apa staff google kalo' kerja males malesan yak? :D harusnya aku bisa merhati'in bunda saat nyiram bunga di halaman rumah dari kotak sabun yang super lemot ini...

NB : *pesan ini buat para staff google* kalian aku kasih waktu 2 X 24 jam untuk meng-up-date google earth agar desa-megapolitan-jember-ku-yang-indah-lestari-damai-tentram-sentosa-tata-raharja-bersahaja- dan-penuh-pesona bisa terlihat jelas dari tempat aku duduk ini... 'p

- - - -
http://deepbluesomething.multiply.com/photos/album/21