Senin, Maret 27, 2006

sauh

kurva lengkung di janur muda itu seperti kapal kayu yang melepas sauh,
diam-mu tentang kesedihan harus pudar benar, sebelum kapal kayu-mu itu beranjak pelan meninggalkan pelabuhan
ombak di depan tidak pernah bisa di tebak, kecuali kamu memang harus benar percaya dengan sorot mata si kapten kapal...

semoga cuaca di kota pisang-mu itu cerah malam nanti, percaya, ada doa yang terkirim sempurna dari tempat yang jauh...

Rabu, Maret 15, 2006

pelangi

ada yang bilang, hidup itu seperti warna pelangi, seperti ragam warna-warni di karnaval 17 agustus-an, seperti baju badut konyol di tempat-tempat hiburan, ada juga yang bilang hidup itu warnanya hitam dan putih, dan sebagian menambahkan "tidak hanya hitam dan putih, tapi kadang juga ada warna abu-abu-nya..." life is blur

kalo' aku bilang hidup itu tidak harus seperti pelangi, yang indah bias sinarnya berwarna warni, beraneka ragam, yang berwarna indah tapi tidak bisa di raih, tidak bisa di genggam, seperti dongengan kecil sebelum tidur, seperti kakek yang bilang itu adalah jembatan para bidadari yang turun ke bumi *untuk mandi rame-rame katanya, memang di surga nga' ada kolam yang lebih bagus apa? pake acara mesti turun ke bumi gueguege...*

di atas kereta api, sedikit aku berpikir tentang pelangi saat berangkat ke jakarta kemaren, banyak hal yg aku pikir seperti aliran air, terjadi begitu saja, tentang koneksi proxy, lalu saat aku browsing, mengirim email, berangkat ke bogor, dapat tugas di sukamandi, urutan kejadian kecil yang ternyata membawaku di kereta pagi itu, meninggalkan bandung, bertemu tanpa sengaja dengan seorang teman di stasiun jatinegara, lalu mencoba menghubungin seorang sahabat lama yang tinggal di jakarta untuk rela jadi 'pemandu wisata' berpanas-panas ria di jalanan jakarta untuk nyari penginapan yang murah, seperti sebuah kebetulan yang sempurna, amat sangat sempurna...

bertemu dengan suasana yang baru buatku, hiruk pikuknya dan kemacetan yang mengesalkan *hate noise, realy* juga saat harus masuk ke dalam ruangan besar untuk berhadapan dengan seorang hrd amatir yang cantik, memperhatikan semua pertanyaan, bola mata, dan gerakannya, seperti juga dia memperhatikan semua yang aku ucapkan, *sebenernya siapa menganalisis siapa sih?* ...hummm, seperti dia terlalu cantik untuk memberiku pertanyaan aneh, mengernyitkan dahi untuk semua pertanyaan yang aku pikir terlalu text book, juga psikotest yang bikin kepalaku pusing itu, sepertinya semua proxy's crew tidak harus ikut psikotest untuk mahir menguasai konsole linux *bhuahahahaha*

sisanya tergantung yang di ataslah, saat ini aku tidak sedang menunggu keajaiban, aku cuma sedang menunggu untuk tahu tentang sisa benang merah hidupku selanjutnya, sama halnya seperti aku yang tidak pernah percaya dengan bidadari yang bersayap, ato' bidadari yang pake selendang warna-warni sekalipun, yang di letakkan di atas batu sebelum mereka rame rame nyemplung ke sungai... *byuuurrr....*

Selasa, Maret 07, 2006

1 x 2,5

dan kabel-kabel yang berseliweran itu, skrip kode, konsole di layar monitor dan grafik putih yang men-jenuh-kan seperti yang melintas tentang pecahan tabung reaksi yang aku jatuhkan kemaren, juga percikan dari zat-zat kimia, lalu menetes, mengotori seragam laboratorium di tubuh putih itu, memercik jadi satu di air matamu, merembes di bola mata bening itu, lalu merobek lensa retina di mataku...

bersimpati, berempathi, dari rasa antipati ini, melepaskan ikatan yang membuat badan gerah dari seragam putih yang kotor, kucabik, lalu kulepas, lalu kulempar, mencoba untuk tidak mengikat, merenggangkan sabuk kulit, merobek semua kertas bertitel, putih asap yang melayang, memekat lalu terurai, tak akan aku biarkan mencapai titik yang jenuh ato'pun di titik viskositas yang pekat sekalipun, harusnya dirobek saja buku buku tebal itu, biar saja

sedikit saliva yang melumer di cermin itu, terngiang lalu memejam, berotasi karbondioksida putih pekat sepoi dan terurai di udara sempit ruangan ini, seperti berada di dalam peti mati, tidak ada siapapun, tidak seorangpun, jangan ada seorangpun...

disini, di titik kulminasi introvert ku, terdampar disini, dari hiruk pikuk yang memuakkan, seperti keringat dingin yang menetes di 1x2,5 ini, tidak ada siapapun, tidak akan ada seorangpun, jangan ada seorangpun, di rumitnya jaringan kabel kabel putih itu, silau bias catatan sampah ini, lalu meremang, di malam yang belum berjaya...

membumbung kemana asap pekat putih ini, tak akan pernah bisa bersembunyi dari sejarah...


>> just for you.mp3 - richard cocciante
* dari soelnovsky waktu dia masih muda, sekarang dia sudah oldist kayak lagu ini, hmmm ...bersulang soel*

Minggu, Maret 05, 2006

cu...

dear cu...
kakek minta setelah kamu baca ketikan kakek ini, secepatnya kamu telepon kakek di desa karena kakek yakin kalo kakek pasti sangat sangat kangen bersulang kapucino bersama kamu di pinggiran kolam ikan di depan rumah kakek itu, sambil mendengarkan lagu lagu klasik petikan gitarmu yang kakek ajarkan padamu-besok-... hummm, sekarang tahun 2006, abis renopasi proxynet, entah tahun berapa kamu baca ketikan ini, kalo saja google dotkom masih ada, kalo saja server google masih kuat, kalo saja admin google tidak menghapus login kakek dari hardisnya, pasti 'deep blue something' coretan kakek ini masih bisa di akses dari kamarmu *hihihi kok pengen nguyu dewe yo*

malam ini *eh udah pagi yak?* kakek sedang berusaha mengingat kamu cu *apanya yg di inget kek?* sedikit kakek bermimpi, mungkin pas kamu mbaca coretan kakek ini, proxynet sudah berlantai 6 yak, kayak gedung BCA yang cabangnya di mana mana itu, toko klontong ini meski lantainya masih dua, meski lantai-nya kayu semua *gaya rumah sunda cu, entah ide siapa ini, emang kakek buyut orang sunda itu aneh-aneh kok, wong enak enak beton kok di ganti kayu, sampe-sampe kos-kosanku juga lantainya kayu, jadi kalo' ada jalan gludakan gitu* tapi meskipun begitu ujung kabel kabelnya bisa menyentuh dunia kok... *halah*

mungkin saat kamu baca ini, sudah ada search engine yang lebih bagus dari google, benwit di endonesa sudah murah dan meriah, koneksi internet sudah masuk sampe ke pelosok desa tersudut sekalipun, petani di sawah sudah bawa laptop semua, tapi cu, sekarang boro-boro nge-net, lah wong untuk beli beras aja' susahnya minta ampun kok, apalagi rencana pemerintah pake acara beli beras dari vietnam kuwi *grrr* apalagi beli laptop, jadi bersyukurlah kalo kamu masih bisa makan hari ini, ingat ingat saja pesen bapak-kakekmu dulu yak, "makanlah seadanya yang ada di meja makan, hidup itu cuman sekali tapi bersyukurlah berkali kali" gitu katanya kemaren cu... *sebenernya kakek pengen tanya ama bapak kakek cu, lah kalo di depan meja makanya nga' ada apa gimana dunk? tapi kakek mengurungkan niat itu cu, bahkan sampe' sekarang*

cu...
kemaren sebulan penuh kandang monyet ini di renop, di bongkar *tapi susah di pasang :p* di potong sana sini, di palu, di paku, di lem, di gunting, di cat, di kuas, dan berandai andai mungkin dulu indofood dan multi bintang indonesia yang pernah kakek kunjungin itu awalnya seperti ini yak... humm, seandainya kamu melihat kakek soel mengecat semua dinding *gueguegue admin cap kentang jadi tukang cat*, seandainya kamu melihat kakek inx memotong kayu, tukang design-nya jadi tukang kayu*, kakek meong jadi tukang koki memasak nasi liwet kayak ibu-ibu PKK buat logistik buat para tukang, juga kakek Q sibuk pasang kabel kayak tukang PLN *bhuwahaha* dan seandainya juga kamu melihat kakekmu yang petani ini duduk leyeh-leyeh dengan kapucino sambil ngupil dan mengamati mereka satu persatu *calon boss pabrik tempe, amien, hihi* disini kakek kakekmu belajar banyak, dari belajar ngirim email sampe belajar motong kayu, semuanya ada, semua harus bisa *hihihi ngawur*

cu...
kakek-kakekmu lagi pengen sekali nyeting kandang moyet ini jadi bernuansa etnik tradisional, pengen sekali masang semua barang dari seluruh pelosok endonesa di semua dinding karena kakek kakekmu ini sumpah mati cinta sekali sama endonesa yang sistem-nya lucu ini cu... tapi endonesa teteplah endoesa, tanah air beta cu... jadi cu, kamu jgn mbolos pas upacara bendera hari senin di sekolah yak, karena cuman saat itu kamu bisa tau betapa menyenangkan sekali nyanyi lagu endonesa raya rame rame bareng temen temen kamu *jgn ikut ikut mbolos kayak kakek jaman es-em-a dulu ya cu, mesti pake acara loncat-loncat tembok, mesti pernah di kejar-kejar guru BP pake sepeda motor sambil bawa rotan, kayak kucing nyolong pindang aja cu... huh, kadang kakek menyesal cu, kenapa juga dulu ikut-ikutan mbolos bareng temen temen kakek...*

cu...
belajarlah yang rajin, ingat ya cu, rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, *hihihi dogma mujarap sejak jaman kucing belum tumbuh bulu dari kakek buyutmu kie* pokoknya kamu harus jadi anak yang pinter, cari-duit-halal itu susahnya minta ampun cu, jadi jgn pernah buat bundamu nangis karena kamu keseringan mbolos dan yang ngakibatkan kamu sampe nga' naek kelas, kalo sekali sekali seh nga apa apa, dulu kakek juga sering mbolos kok, tapi khan yang penting nga' sampe ketahuan wali kelas *loh?*

sudah ya cu, mungkin coretan ini bakal terus kakek up date, karena kadang ide bagus itu munculnya belakangan *hihi*

kakek sudah ngantuk, kapan kapan di sambung lagi pesan dari kakekmu yang tidak-jelek-jelek-amat di flower city ini *bwuahaha-narsis mode on* ...kamu juga jangan mudah percaya dengan semua yang kamu baca, yang kamu tonton di televisi, semua cuma karya tangan...
...jaga bundamu baek-baek, ingat ya cu, sampe' kapanpun, surga tetep di bawah telapak kaki ibu... *tapi sampe' saat ini kakek belom juga tau, neraka itu ada di bawah telapak kaki siapa? cari tau ya cu...*

oh ya cu, hampir kakek lupa, setelah kamu baca ketikan kakek ini, tolong doakan kakek yak, semoga kakek dapet nenek yang baek buat kamu... ') *bhwuahahahaha*