ramainya kota, yang padat, yang merayap, kumis ijuk pak polisi, rambu dan trafik light yang berjejer rapi tadi pagi selalu saja berteriak tentang aturan yang membosankan, rutinitasnya sejak pagi, ujung telunjuk atasan, dan percintaan barunya dengan kode, membuatnya ingin melakukan itu, membuatnya harus melakukan itu
mencoba coba untuk tidak menghormati wajah kota, melupakan sejenak nasihat, sekali ini saja, seperti apakah rasanya?
"...banyak yang harus ditinggalkan, banyak juga yang harus di-peta-kan" kira kira begitulah yang didengarnya, atau mengalir sajalah seperti sungai kecil tempat dia bermain dulu mencari ikan2 kecil dan meletakannya di toples kue kering milik bunda di kamar
ada yang melesat secepat mungkin tadi di jalan
harapan yang sederhana, cerita yang manis pedas, imajinasi kode minimalis di otak kiri, asap knalpot dan dendam sudah jadi satu
jarum jam sudah menunjuk ke arah dua, sudah malam, sudah subuh mungkin, sepertinya harus beristirahat dari penat, karena besok pagi sudah tidak boleh melesat seperti malam yang melelahkan ini, aturan kota harus di hormati, cahaya dari bulan gemini yang mengejarnya tadi di jalan membuat dia amat-sangat penat
tiba tiba teringat haru biru suasana jalanan saat malam sepi di desa, mungkin memang awal dari semuanya, awal dari cerita yang membuatnya tertawa, bersedih dan kelucuan kelucuan yang tidak begitu bisa dibedakannya lagi
"...hummm, sejarah terulang " gumannya
luna... luna... melesatlah! melesatlah!
ya! dia hanya ingin melesat, bukan berlari atau ingin bersembunyi
karena memang dia sudah berjanji, dia hanya akan bersenandung didalam hati...
"...luna kau selalu sendiri
sampai kapanpun sendiri
hingga kau lelah menanti
hingga kau lelah menangis... "
http://search.4shared.com/postDownload/lkq0Qed6/08_peterpan_-_yang_terdalam.html
BalasHapus