Senin, September 12, 2005

ret0rika

siang ini terlalu panas dan berdebu, mungkin sebotol fanta dan beberapa bongkah es batu bisa membuat akoe sedikit melupakan itu, juga sayur dan telur dadar di balik kaca di depanku bisa sedikit mengisi lambungku, akoe yakin si ibu manis penjual nasi itu akan cepat menyajikan semuanya didepanku... pabrik pembenihan siang ini panas sekali... mungkin matahari diatas sana ber-mitosis menjadi sangat banyak sekali, akoe yakin hal yang sama juga terjadi dengan kedua orang di sampingku, kita belum sarapan dari tadi pagi...
berlahan, kunyahan demi kunyahan, entah ini makan siang ato' mungkin sarapan, dan saat semua cerita itu mengalir
...entah siapa yang memulai perbincangan ini, yang pasti udara tetap saja panas...
"...ibu boleh tanya ya de'? cinta itu apa? sampe' usia setua ini ibu nga' pernah tau cinta itu apa?... begini de' dulu waktu ibu menikah, usia ibu 10 tahun, waktu ketemu dengan bapak, usia bapak sudah 22 tahun, ibu belom pernah merasa kenal dengan bapak saat itu, dulu ibu menikah karena di jodohkan paksa oleh kedua orang tua, dan ibu nga' berani menolaknya karena pasti orang tua ibu akan mencubit dan memukul ibu, coba ade' bayangkan, apa yang bisa di pikirkan oleh seorang anak berusia 10 tahun saat itu? tapi de'..."

...nasi di piring tinggal beberapa suap lagi, akoe terlalu sungkan untuk minta tambahan nasi, karena itu berarti permintaanku akan membuat cerita si ibu pemilik warung terpotong karenannya, mungkin baiknya akoe tunda saja keinginan terakhirku...
"...suami ibu orang yang sangat sabar de', dia sabar menunggu 2 tahun kemudian untuk menyentuh ibu" -akoe rasa ibu pemilik warung ini menemukan kata2 terakhir yang tepat untuk kalimat yang diucapkannya- bapak juga selalu ada saat ibu membutuhkannya, mungkin karena bapak terlanjur sayang sama ibu ya?... bertahun tahun ibu merasakan hal ini, sedikit merasa aneh saat melihat anak anak ibu berjalan berdua dengan teman dekatnya, karena memang dulu ibu tidak pernah melakukannya bersama bapak, dulu ibu juga menangis saat bapak memberikan beberapa lembar uang dari hasil jerih payahnya bekerja, ibu selalu menangis menolaknya dan berlari masuk ke dalam kamar setelah itu, sehingga semua uang itu di berikan kepada orang tua ibu "ini buat uang jajan si ade'" kata bapak kepada orangtua ibu...

...masih saja ibu pemilik warung nasi itu melanjutkan ceritanya...
mungkin ini semua bukan tentang permainan kartu remi, mungkin itu pikirnya, tidak perlu ada kartu As yang disembunyikan, diantara keluguan dan kejujuran yang tidak banyak akoe punya, dan akoe cuma bisa diam mendengarkan...
sedikit pengalaman dari seorang pemilik warung nasi yang ceritanya harus bersaing dengan berisiknya suara mesin mesin berat penggilingan benih padi siang itu ...dan akoe cuma bisa diam memperhatikan, sempat akoe pandangin kedua rekan di sampingkoe, mungkin mereka berdua bisa menjawab pertanyaan si ibu pemilik warung itu... tapi semua diam

pertanyaan ini memang tidak perlu akoe jawab, karena memang tidak ada keharusan untuk itu, kalo'pun ada jawaban dari "buku petunjuk" pasti itu semua cuma retorika, dari chicken soup sampe google dotkom itu semua cuman retorika, tapi untuk pertama kalinya, akoe sangat menghargai pertanyaan klasik yang tidak pernah ingin dan tidak pernah bisa akoe jawab itu, "...maaf ya bu, saya masih dalam perjalanan..." katakoe ')


*cerita si pemilik warung nasi di winzip tanpa kesepakatan disesuaikan dgn kebutuhan deep blue something 'p

2 komentar:

  1. ...hidup itu emang penuh warna ya mas...')
    sekarang tinggal bagaimana Qt mengolah warna2 itu biar jd warna yg cantik dan enak di lihat...')

    BalasHapus
  2. slow likeo monikeo chicko lalkio

    BalasHapus