ada pasar malam di kepalaku, yang penuh dengan komedi putar dan kelip bintang bintang...
pagi ini gerimis, langit yang biasanya biru jadi dominan warna abu abu, dan d'vLA kuda-besi-ku bukan solusi yang tepat untuk perjalanan menuju ciasem, sukamandi pagi ini, terpaksa aku harus naek angkot yang jalannya kayak siput *siput aja lebih cepet- di puncak lembang pandanganku menyapu hamparan tanaman teh yang hijau, sambil ingatan terus saja berputar seperti komedi putar, ada lampion, hiruk yang pikuk dan otakku jadi tambah pusing *tadi aku lupa mimik antimo, huh payah! petualang kok mabok darat- semua lagu lagu di dalam 256MB digital player warna merah ini cuma bisa sedikit membantu menghilangkan rasa jenuh ini, musik cadas dari muse, green day, trio alkaline, dan beat retro punya edson, ternyata harus terpotong paksa dengan lirik lirik melow-dramatics-cool si tommy page dan melly goeslaw *yayy, siapa seh yang nge-paste lagu-lagu-bunuh-diri ke flesdis merah ini?-
setelah ganti angkot beberapa kali *dan sempet tadi bergelantungan kayak monyet karena angkotnya penuh, dan sopir brengsek itu masih tetap aja memaksaku untuk tetap naek! setelah sempat berdebat dan ternyata percuma berdebat, mau-tidak-mau, aku harus mengejar waktu yang tinggal beberapa jam ini *ck! ck! dasar sopir angkot endonesa komersial kapitalis!-
sukamandi masih tetap seperti dulu, nga ada yang berubah kecuali tentang secuil kenangan yang sedikit memudar di sini, di antara pasar malam ini, sekelumit ingatan bahwa dulu aku pernah menghabiskan sedikit waktu ku disini, untuk mencari apa-apa-saja yang harus aku cari...
argumentasi sore ini berjalan lancar, juga semua yang ter-format selama di perjalanan... 'hmmm, ikut rencana Tuhan aja' kataku dalam hati sebelum meninggalkan tempat ini, mungkin untuk sementara, mungkin untuk waktu yang lama, setidaknya aku sudah berusaha... setidaknya aku tahu bahwa semua yang aku kenal di sana sehat, itu sudah cukup
lalu perjalanan pulang kutempuh dengan rute yang berbeda, aku tidak lewat subang, tidak lewat jalan kalijati, di jalan pantura aku menuju cikampek, berhenti di simpang, rute ini lewat purwokerto, berjalan sendiri, dengan ransel-hitam yang cuma satu satunya itu, seperti biasa
'nanti belok mana lagi yak?' kataku dalam hati, whatta hell! jalan lagi aja, jangan banyak tanya...
dan lagi lagi aku harus duduk di samping sopir yang mengemudikan mobil umum ini se-enak-udel'le-dewek' seperti psikopat! 'kang tolong nyetir mobilnya pelan pelan' kataku tegas ... wajah pucat penumpang di belakang seharusnya membuat dia sadar bahwa jalanan yang padat ini bukan sirkuit sentul
'dasar sopir tolol' gerutuku dalam hati, langit mulai gelap, lalu di beberapa kilometer dekat pintu masuk tol padalarang, dari kejauhan terlihat orang-orang yang berkerumun, sedikit macet memang, sebuah mobil berwarna merah terjungkir di bahu jalan, terhembas melewati tengah pembatas jalan, sepertinya ini berita yang bagus buat seorang kuli tinta, mungkin besok beritanya akan muncul di koran pagi
udara semakin dingin, kaca mobil yang nga' bisa ditutup membuat perjalanan ini semakin penat saja, lalu mobil yang aku tumpangin melewati kerumunan itu perlahan lahan, hanya untuk memenuhi rasa-ingin-tahu-nya saja, tapi dari tempatku duduk, aku cuma bisa diam, menghisap rokok di sela jari-jariku, tidak ada yang bisa aku lakukan, kecuali 'semoga penumpangnya selamat tuhan...'
letih sekali perjalanan ini, seperti ada pasar malam di kepalaku, yang penuh dengan komedi putar dan kelip bintang bintang... bahkan wajah dengan senyum manis yang duduk turun-naek bergantian di sampingku juga tidak bisa menyegarkan mataku-sepat-ku ini, telingaku tersumpal headset yang mendengungkan file kopi-paste dari folder musik di mesin operator, aku cuma pengen secepatnya pulang, bobo'...
arrgght...!! ada pasar malam di kepalaku, yang penuh dengan komedi putar, yang penuh dengan kelip bintang bintang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar