Jumat, Desember 23, 2005

Crassulaceae

kalancoe pinnata bukan pedangkalancoe pinnata

"...lalu aku meletakkannya di depan, agar semua bisa memandangnya dengan tajam, mungkin mereka juga berharap bunga ini secepatnya bisa tumbuh indah dan mekar

tapi tidak begitu dengan aku...
aku berharap kuncup bunga itu biarlah tetap seperti itu, berharap agar bunga ini tidak mekar
agar tidak tumbuh
lalu kemudian kelopaknya jadi layu...
melemah, meranggas...
lalu kemudian kelopak itu mati...
biarlah aku selalu memandangnya sebagai kekuncupan yang abadi...
sebagai kelucuan yang immortal...



*huh, ternyata cihideung tidak menyediakan pedang dan baju zirah yang aku butuhkan, lalu sedikit aku berpikir, seandainya bunga bunga ini ada diantara tumpukan mesin komputer di PROXYnet, apa yang akan mereka pikirkan? diantara kepulan asap rokok dji-sam-soe dari mulut soelnovsky, diantara scrip flash si inx, di antara dentingan sabetan pedang para laghaimer, si meonk, bro'Q dan si ahmed?
lalu si pakar bunga dari UGM itu berkata "her, sepertinya bunga ini cocok, murah dan meriah" *kastuba terlalu mahal yo ndesz? duit 50 ribu mending buat beli baso' ajah :p

baiklah, tak ada pedang, bunga pun jadi...

2 komentar:

  1. dikau pakar bunga?
    wah, baru tahu saya!
    ...salut!

    BalasHapus
  2. dirimu salah, diriku sebenarnya pakar... *hmmm, pakar apa yak? bingung neh, nga' punya keahlian T_T

    tapi besok pagi temenku yang abis 'shopping' se-dumbreh bunga di cihideung mo' balik ke jogja, you mau mbantu angkat angkat ke stasiun? 'p

    BalasHapus